ANBER.ID – Maulid Nabi di Aceh bukan sekadar peringatan kelahiran Rasulullah, melainkan “musim” keagamaan yang merangkum ibadah, kenduri, dan solidaritas sosial.
Di bumi Serambi Mekkah, Maulid Nabi di Aceh menyatu dengan adat: ada kenduri besar (Khanduri Maulod), sajian kuah beulangong yang dimasak gotong royong, zikir dan shalawat, hingga santunan anak yatim—mewujudkan cinta pada Nabi sekaligus merawat kebersamaan.
Sejarah Singkat dan Jejak Ulama
Aceh lama dikenal sebagai pusat penyebaran Islam di kawasan Nusantara. Tradisi Maulid berkembang di meunasah dan dayah (pesantren), dipandu ulama yang menekankan keteladanan akhlak Nabi serta amal sosial sebagai ruh perayaan. Kehadiran ulama membuat perayaan tidak hanya meriah, tetapi juga mendidik—menjaga kesinambungan nilai agama dan budaya di tingkat gampong.
Musim Maulid: Dirayakan Selama Tiga Bulan
Tidak seperti di banyak daerah lain, peringatan di Aceh lazimnya berlangsung sekitar 90 hari sejak 12 Rabiul Awal dan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya. Perayaan diputar antargampong/komunitas, sehingga warga bisa “woe u gampong” (pulang kampung) untuk hadir di kenduri keluarga atau kampungnya.
Khanduri Maulod & Menu Ikonik: Kuah Beulangong
Inti perayaan adalah kenduri besar: warga bergotong royong memasak kuah beulangong—kari daging dalam kuali besar—lalu menyajikannya untuk seluruh tamu, termasuk musafir dan tetangga lintas gampong. Hidangan ini telah menjadi penanda Maulid di Aceh sekaligus simbol kebersamaan, sedekah, dan syukur atas nikmat iman.
- Memasak dilakukan di halaman meunasah/masjid.
- Warga menyumbang bahan, tenaga, dan dana sesuai kemampuan.
- Setelah doa dan tausiyah, semua makan bersama (khanduri).
Rangkaian Ibadah: Shalawat, Zikir, dan Barzanji
Di banyak tempat, Maulid diisi pembacaan shalawat dan Barzanji—kisah pujian atas Nabi—serta ceramah yang menekankan keteladanan akhlak Rasulullah. Praktik ini mempertebal kecintaan kepada Nabi dan menjadi sarana pendidikan keagamaan lintas generasi.
Dimensi Sosial: Santunan Anak Yatim & Solidaritas Gampong
Ciri lain Maulid Nabi di Aceh adalah perhatian khusus pada anak yatim, fakir miskin, dan dhuafa. Santunan dan jamuan menjadi bagian dari agenda, memperkuat solidaritas sosial dan memperkecil jarak antarlapisan masyarakat. Gotong royong—dari persiapan bahan hingga distribusi hidangan—membuat perayaan menjadi ruang pertemuan warga dan pelekat kohesi sosial.
Edukasi Budaya & Pelestarian Adat
Perayaan juga memelihara identitas Aceh sebagai Serambi Mekkah. Anak-anak belajar adab kenduri, tata cara menghormati tamu, dan etika bermasyarakat. Khanduri yang teratur di meunasah/masjid serta rotasi antargampong memastikan nilai-nilai itu lestari dalam praktik keseharian, bukan sekadar slogan.
Pada akhirnya, Maulid Nabi di Aceh adalah harmoni ibadah, adat, dan kemanusiaan di tanah Serambi Mekkah. Di balik gemuruh kenduri dan aroma kuah beulangong, tersimpan komitmen kolektif untuk meneladani akhlak Nabi, menguatkan ukhuwah, dan menjaga warisan budaya.
Selama “musim Maulid” berlangsung, Aceh mengingatkan kita bahwa syukur terbaik adalah berbagi—dan merawat tradisi yang mendekatkan manusia kepada Tuhannya.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Anber.id WhatsApp Channel Disini. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

